
Cara menjelaskan bahwa mie di Asia bukan cuma makanan, tapi produk pertemuan peradaban—lahir dari pertanian (gandum/beras/millet), berkembang lewat teknologi dapur (adonan, tarik, potong, rebus), lalu menyebar melalui jalur perdagangan dan migrasi (Jalur Sutra dan rute maritim).
BACA JUGA : Mie Asia Khas Tiongkok yang Menginspirasi Dunia Kuliner
Hasilnya: satu “konsep mie” melahirkan banyak Sejarah Mie Asia tradisi lokal yang berbeda, tetapi tetap terasa saling terhubung.
1) Awal mula:
Pondasi mie adalah tepung + air + teknik membentuk (ditarik, dipotong, dipres, atau dicetak). Asia punya variasi bahan yang kuat:
-
Gandum (banyak di Asia Utara & Tengah) → mie elastis, cocok ditarik/potong.
-
Beras (banyak di Asia Tenggara) → mie bertekstur lebih lembut/kenyal khas, sering dibuat dari tepung beras.
-
Millet/jewawut dan biji-bijian lain (sebagian wilayah kuno) → ikut mewarnai sejarah awal adonan.
Ada temuan terkenal berupa mangkuk berisi mie berusia kira-kira 4.000 tahun di situs arkeologi Lajia (Tiongkok). Namun, detail bahan pembuatnya masih diperdebatkan di kalangan peneliti—jadi ia penting sebagai “jejak tua”, tapi tetap perlu dipahami sebagai temuan yang masih ada diskusi ilmiahnya.
2) Mie Masuk Catatan Peradaban
Selain temuan Sejarah Mie Asia arkeologi, sejarah mie juga terlihat dari catatan tertulis. Salah satu rujukan yang sering disebut adalah adanya catatan mie dalam periode Han Timur (25–220 M), yang menunjukkan mie sudah dikenal sebagai hidangan (misalnya bentuk sup mie) pada masa itu.
Artinya, mie bukan “tren baru”, tetapi sudah menjadi bagian dari budaya makan dan sistem pangan masyarakat sejak awal perkembangan negara-negara besar di Asia Timur.
3) Kuno yang membawa resep, gandum, dan kebiasaan makan
Yang membuat mie benar-benar “menghubungkan banyak peradaban” adalah perdagangan dan perpindahan manusia.
Jalur Sutra darat
Jalur Sutra menghubungkan Asia Timur—Asia Tengah—hingga kawasan Barat (dan terkoneksi ke jaringan perdagangan yang lebih luas). Ini bukan cuma jalur barang mewah, tapi juga jalur ide: teknik memasak, bumbu, dan kebiasaan makan ikut bergerak bersama pedagang, tentara, dan perantau.
Di titik-titik persinggahan (kota oase, pasar, pos dagang), makanan yang:
-
mudah dibuat,
-
mengenyangkan,
-
bahan dasarnya tahan simpan (tepung)
menjadi favorit—mie termasuk di dalamnya. (Konsep “bekal perjalanan” ini menjelaskan kenapa makanan berbasis tepung dan rebus cepat sangat cocok untuk rute panjang.)
Leave a Reply